Friday, 22 March 2019

Block element vs inline element


Apa yang ada didalam pikiran kita saat membaca kalimat "Block Element" dan "Inline Element"? Mungkin secara arti dalam makna terjemah Indonesia dapat diartikan, elemen yang ada dalam satu baris, dan elemen yang bertolak belakang, atau tidak menyatu.

Baiklah, keduanya  merupakan istilah dalam dunia programming, dan merupakan salah satu dasar yang penting untuk di pelajari. Secara default keduanya merupakan dasar pemahaman dalam penyusunan UI (user interface) sebuah website.

Hakikatnya inline element akan mengambil area pada web secara menumpuk atau berada pada satu baris hingga menghabiskan semua area pada website. Sedangkan block element akan mengambil satu baris penuh  area website yang diwakili oleh kode br.

Berikut contoh inline element:

<div style= "background-color: yellow; border: 1px solid">Halo dunia</div>

<div style= "background-color: brown; border: 1px solid">Halo people</div>


Berikut adalah hasil running kode :

Halo dunia
Halo people


Berikut contoh block element:

<div style= "background-color: red; border: 1px solid">Halo dunia</div>

<br/>

<div style= "background-color: red; border: 1px solid">Halo people</div>


Hasil running kode block element:


Halo dunia

Halo people

Jika kita lihat pada desktop area maka kotak (dengan kode inline element) akan menumpuk pada satu baris. Meskipun pada kode kita sudah menuliskannya pada baris yang berbeda.  Sehingga dapat disimpulkan inline element akan menghabiskan atau mengisi hingga penuh satu baris, jika telah penuh maka dia akan berpindah ke baris selanjutnya.

Sedangkan, pada block element bersifat sebaliknya. Dia akan mengisi penuh area browser. Sehingga dia akan mengisi satu baris sendiri. Bisa kita liat dari terdapatnya jarak kosong.
Share:

Saturday, 16 March 2019

Totalitas Hijrah Finansial?

Finansial adalah salah satu topik bisnis dan perbincangan yang paling hangat. Beberapa dekade terakhir terjadi perubahan yang sangat positif pada sektor ini, khususnya Indonesia. Nilai-nilai relijius dalam semangat berbagai transaksi keuangan terus menguat.

Berbagai pemikiran gemilang terus di telurkan dan di kampanyekan. Berbagai upaya terus dilakukan untuk terhindar dari berbagai hal tidak bermanfaat dari transaksi finansial. Sebagai hasil pemikiran-pemikiran tersebut, serta terus berkembangnya keilmuan keuangan syariah, lahirlah berbagai penyedia jasa keuangan syariah.

Antara lain bank-bank syariah yang di pelopori oleh munculnya bank muamalah. Sebagai efek ekor jas, bermunculanlah berbagai bank syariah sebagai anak perusahaan dari merek konvensial yang ada, baik BUMN maupun swasta. Sebuah pencapaian besar dari berbagai usaha dan pemikiran beberapa dekade terakhir.

Selain bertumbuhannya berbagai penyedia jasa keuangan syariah berbasis bank atau koperasi. Juga di ikuti dengan bermunculannya berbagai lembaga penyalur dana amal berupa badan amil zakat atau sebagainya.

Selain hal tersebut, juga lahir berbagai majelis keilmuan dan berbagai kegiatan relijius, sebuah perubahan yang positif. Namun sayangnya, dari berbagai kegiatan yang diselenggarakan masih belum mempunyai semangat hijrah finansial yang totalitas. Masih banyak forum kajian atau kegiatan relijius yang memanfaatkan bank konvensional, bahkan yang sangat disayangkan lagi menggunakan bank merek luar, sebagai media pembayaran biaya kegiatan atau infaq kegiatan.

Sebagai contoh, kegiatan pelatihan menghafal quran, namun pembayaran biaya pendidikannya masih menggunakan bank konvensional. Lalu bagaimana dengan lembaga penghimpun dana yang masih mempunyai banyak rekening konvensional? Untuk yang satu ini mungkin terdapat kajian khusus terkait kemudahan para donatur dalam menyalurkan dana donasinya.

Namun, sekali lagi sangat disayangkan sebuah kegiatan masih menggunakan bank konvensional sebagai media pembayaran. Lalu bagaimana dengan perkembangan metode cashless saat ini? Yang ditandai dengan bertumbuhannya perusahaan fintech dengan berbagai produk mereka.

Mulai dari elektronik money, dan gopay serta ovo yang merupakan raja penyedia jasa cashless saat ini. Semoga nanti akan lahir fintech yang berbasih syariah. Bagaimana bentuknya? Semoga para ahli bisa melahirkan pemikiran mengenai hal tersebut.

Yang perlu kita syukuri dari perkembangan fintech ini. Adalah perubahan sikap masyarakat dalam mengeluarkan uang mereka dalam bentuk cashless. Dan semakin banyaknya perusahaan fintech yang berkejasama dalam penyaluran infaq, sedekah, atau sumbangan melalui produk mereka. 

Hal tersebut membuat masyarakat lebih ringan dalam berdonasi. Pasalnya mereka tidak merasakan telah mengluarkan uang, karena jumlah uang didalam dompetnya tidak berkurang. Semoga kedepan akan terjadi perubahan yang lebih positif dalam semua sektor pada finansial.

Share:

Friday, 15 March 2019

Pemerintah berpotensi melakukan Kekerasan psikologis ke masyarakatnya


Jika sebelumnya kita di hebohkan dengan sebuah keputusan dari PBNU yang tidak masuk akal tentang kata "kafir". Yang kemudian mereka kategorikan sebagai kejahatan teologis. Padahal hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Karena setiap agama memiliki sebutan tersendiri terhadap orang-orang yang tidak satu kepercayaan dengan penganutnya

Kali ini hal senada terjadi, tetapi perbedaannya adalah potensi kejahatan  berupa psikologis. Beberapa pemerintah kabupaten dan kota di provinsi sumatera selatan, memutuskan untuk melebeli rumah penerima manfaat PKH (Program keluarga Harapan), dengan stiker miskin.

Bahkan untuk mengantisipasi pencabutan stiker miskin di rumah para penerima manfaat PKH. Pemerintah memutuskan untuk mengecat dinding rumah dengan label Keluarga miskin.

Beberapa kabupaten kota telah menerapkan kebijakan ini, seperti kota prabumulih. Awalnya mereka bertujuan tanda tersebut untuk dapat membedakan masyarakat miskin, dan layak menerima program tersebut. Serta mengurangi ketidaktepatan sasaran program tersebut, yang pada realitasnya banyak orang kaya menjadi penerima  manfaat program tersebut.


Namun jika kita tinjau secara psikologis, kebijakan tersebut berpotensi menjadi kejahatan. Kejahatan yang dimaksud adalah dapat menimbulkan perasaan malu, rendah diri, rasa terhina dan sebagainya pada penerima manfaat. Masyarakat penerima manfaat akan secara tidak langsung mendapatkan perlakuan yang tidak baik secara sosial. 

Lebih jauh stiker penanda tersebut mau tidak mau akan menjadi bahan olok-olok atau bully di tengah masyarakat. Meskipun berbagai pihak berkelit bahwa ini adalah solusi terbaik. Namun potensi kejahatan tersebut jauh lebih besar untuk terjadi, terutama dikalangan millenial.
Share:

Wednesday, 13 March 2019

SALAH NARASI


Perseteruan ketua DPRD DKI dan Gubernur “Anis Baswedan” akhir-akhir ini semakin membuka mata kita selebar mungkin terhadap semua politisi. Manakah politisi atau partai yang bekerja untuk kepentingan rakyat atau hanya rakyat untuk kepentingan mereka?

Setelah sebelumnya berseteru tentang pelaksana pembangunan dan pengelola stadion untuk markas klub sepakbola ibu kota (PERSIJA). Dan kini ketua DPRD DKI lagi-lagi menjegal langkah sang gubernur yang akan menjual saham pada perusahaan bir. 

Sebelumnya, pada keputusan pelaksana pembangunan stadion, DPRD DKI beralasan bahwa Perusahaan yang ditunjuk masih diragukan. Padahal perusahaan yang sama menjadi pelaksana pembangun venue balap sepeda (veldroom) pada masa gubernur Ahok. Hal ini menjadi semakin jelas, bahwa semangat yang di usung adalah semangat golongan yang sangat jauh dari nilai-nilai negarawan.

Selain itu juga, fungsi sebagai legislatif juga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Lucu? Tentu saja iya. Karena orang-orang tersebut nampaknya tidak memahami dengan baik fungsi legislatif dan nilai kenegarawanan serta makna oposisi atau pro eksekutif. 

Selama 5 tahun terakhir kita dipertontonkan kesalahfahaman tersebut. Social perspective di framing sedemikian rupa, jika orang-orang yang memilih posisi sebagai oposisi adalah musuh utama dan besar bagi pemerintah yang harus disingkirkan. Atau sebaliknya jika pemerintah tidak didukung oleh mayoritas anggota legislatifnya maka semua kebijakan harus dijegal, setidaknya dibuat sulit dan lama. 

Selain itu, kita juga dipaksa untuk menelan praktek pro yang keliru. Misalnya saja, ketika sebuah partai berada di barisan eksekutif, dan mendapat jatah menteri, maka semua anggota legislatifnya harus setuju dan tidak boleh mengkritik sedikitpun terhadap berbagai kebijakan pemerintah meskipun tidak tepat. Dengan kata lain penjabat eksekutif berusaha membungkan anggota legislatif dengan memberikan jatah posisi menteri. Atau praktik sebaliknya, menjegal kebijakan pemerintah.

Seharusnya anggota legislatif adalah mitra keritis eksekutif. Mitra kritis? Ya hal tersebutlah yang harusnya dilakukan oleh semua partai dan anggota legislatifnya di berbagai level. Apakah yang dimaksud mitra kritis tersebut. Mendukung penuh semua kebijakan pemerintah yang berpihak kepada rakyat, dan mengkritik semua kebijakan yang tidak atau kurang berpihak kepada rakyat kecil. 

Memanggil eksekutif guna meminta penjelasan ilmiah terhadap sebuah kebijakan yang akan diambil. Bukan mengkonsumsi berita-berita yang bersifat menggoreng dan memperuncing perseteruan.

Perseteruan yang terjadi di DKI Jakarta adalah sebuah tindakan yang lucu, serta tidak mencerminkan sedikitpun sikap bekerja untuk rakyat diperlihatkan ketua DPRD DKI Jakarta. Kenapa seperti itu? Berdasarkan berbagai berita dari semua surat kabar ternama negeri ini, serta pernyataan ketua DPRD DKI pada berbagai wawancara yang menjawab pendapat tersebut. Dia menyebutkan bahwa sengaja tidak memperdulikan permohonan persetujuan penjualan asset, saham di perusahaan bir, pada PT. Delta yang sudah di ajukan sejak tahun lalu.

Seharusnya sikap tersebut tidak dipertotonkan kepada publik. Dewan harusnya menggelar sidang dan mengundang pemerintah untuk memberikan penjelasan kajian secara ilmiah atas wacana kebijakannya.

Tetapi sesuatu yang sangat patut kita syukuri adalah pencerahan yang luar biasa dari kejadian ini. Kita dapat menyusun kembali penilaian terhadap partai mana yang memang berjuang untuk kepentingan rakyat bukan rakyat untuk kepentingan partai. 

Sebaliknya, banyak pemerintah yang juga keliru dalam menyelesaikan berbagai permasalahan terutaman dalam hal kebijakan tata kota. Seperti melakukan penggusuran entah dengan berbagai dalih kepentingan. Rakyat dipaksa untuk pindah dan mendapat ganti bunting, pernyataan gubernur DKI Jakarta sudah cukup untuk menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan banyak pemerintah daerah dan pusat.

Semoga kita semakin terbuka pandangannya. Tulisan ini bukan dimaksudkan mendukung atau menyalahkan pihak manapun, tetapi sebagai media pencerah kita semua yang terkadang terhalang oleh sikap fanatisme yang tidak berdasar terhadap sebuah partai atau tokoh. Yang justru partai tersebut tidak membawa manfaat apapun.



Share:

Thursday, 7 March 2019

Aku dan Literasi




"Membaca tanpa merenunginya bagaikan makan tanpa mencerna"
-Bung Hatta-

Membaca bukanlah sesuatu yang aku gemari, dalam makna suka terhadap novel dan sebagainya, selama studi. Membaca hanya merupakan bagian dari upaya menyelesaikan tugas dan karya ilmiah semasa itu.

Walaupun semasa studi saya pernah aktif menjadi kontributor beberapa media salah satunya portal berita nasional, tetapi membaca bukanlah kegemaran sepenuh hati. Setiap kata "membaca" yang dituliskan di semua kolom pendataan kegemaran atau hobby dalam berbagai kepentingan, tak lebih hanya sekedar pelarian.

Memang saat itu, saya juga  berkeinginan menerbitkan buku. Dan sayapun sudah mempunyai beberapa draft buku yang telah di kerjakan. Berbagai upaya untuk menumbuhkan kegemaran tersebut saya lakukan, antara lain dengan bergabung ke beberapa forum kepenulisan. Biasanya forum-forum tersebut yang selalu memotivasi agar gemar membaca.

Akibat kegemaran yang belum sepenuh hati, beberapa draft tulisan yang ada tetap menumpuk, tidak tersentuh dan terselesaikan selama bertahun-tahun.

Bagaimana dengan fiksi? Jangankan untuk menulisnya, seperti novel dan sebagainya, bahkan membacanya saja aku tidak suka. Bagiku saat itu, membaca novel tak lebih sekedar membuang waktu. Aku lebih gemar membaca hal-hal yang bersifat fakta dan data seperti berita ekonomi dan sebagainya.

Mungkin hal itu menjadi salah satu faktor, mengapa aku terseret menjadi kontributor aktif media berita.

Tetapi hidup adalah sebuah proses. Yang akan mengubah setiap pribadi dan pola fikir menjadi lebih terbuka dan realistis. Faktor analisa terhadap perkembangan diri dan lingkungan mungkin adalah penyebab dari semua perubahan yang kita alami.

Mungkin hal tersebut juga saya alami. Hanya dalam beberapa bulan ini saya mulai belajar menyukai hal-hal berbau fiksi. Mulai dari membaca hingga menulis novel saya coba. 

Setelah membaca beberapa novel karangan penulis ternama bangsa ini. Ternyata sangt luar biasa isinya, ada banyak nilai-nilai hidup yang diselipkan. Baik yang bersifat hikma, dan pelajaran

Memang sebuah keterlambatan mempelajari semua ini. Tetapi tidak ada kata terlambat, setiap orang mempunyai peluang yang sama untuk memulai perubahan.
Share:

Wednesday, 6 March 2019

Appositive, si tukang terang.


Metode penulisan yang satu ini sangat sering digunakan. Dan juga hampir selalu kita temukan pada berbagai bacaan dalam keseharian kita, baik apakah bahasa indonesia atau inggris.

Appositive sendiri adalah sebuah metode untuk menjelaskan sebuah kata. Dalam sistem kepenulisan bahasa inggris, digunakan untuk menjelaskan noun atau pronoun yang berada persis sebelum appositive.

Sedangkan jenis appositive sendiri terbagi dua begitu juga metode penulisannya. Yakni appositive essentiall dan non-essentiall.

Metode penulisan:

1. Non-essential appositive
Metode ini adalah metode yang paling banyak dan sering digunakan serta di temui dalam berbagai bacaan. Dan bahkan paling banyak di ajarkan di kampung inggris Pare, Kira-kira seperti itulah berdasarkan pengalaman saya. Appositive ini di tulis menggunakan dua tanda koma yang mengapit penjelasnya.

Contoh:
Tono, yang rumahnya di pinggir sungai, kemarin mengamuk minta dibelikan sepeda motor.

Tono, whose house close to river, rampaged asking motorcycle.

Kalimat yang rumahnya di pingggir sungai adalah appositive-nya.

2. essentiall appositive.
Jenis appositive ini jarang digunakan dan di ajarkan di berbagai kursus. Terutama di kampung Inggris Pare, tidak pernah di ajarkan selama saya belajar disana. 

Appositive ini di tulis tanpa menggunakan dua tanda koma. Sehingga appositive tersebut nampak seperti kalimat biasa yang mungkin bisa membuat bingung, terutama yang belum mengetahui tehnik ini.

Contoh:
Arsitek Joni Raslianto menyelesaikan project-nya lebih cepat dari jadwal yang di tentukan.

Architect Joni Raslianto finished his project faster than fixed schedule.

Kalimat Joni Raslianto adalah appositive, yang menjelaskan atau mengidentifikasi architect.

Lalu mengapa kita menggunakan appositive? Penggunaan appositive sangat penting untuk membuat tulisan kita lebih detail, dengan  menjelaskan satu objek.


Share:

Tuesday, 5 March 2019

Arena 2019 minim Substansi?



Pesta demokrasi, katanya, republik ini hanya tinggal menghitung hari. Perang APK (alat peraga kampanye) semakin mencapai puncaknya. Hampir disetiap jengkal tanah dan persimpangan terpampang, mulai dari ukuran yang besar hingga selebaran, baliho para calon anggota legislatif berbagai level,  tidak tertinggal juga kandidat eksekutif nomor satu negeri ini.

Seolah ini adalah perlombaan memajang photo mereka dengan semenarik mungkin, mulai dari desain kreatif hingga yang anti mainstream seperti di kabupaten Ogan Olir Sumatera Selatan. Tidak lupa di bumbui kalimat ajakan agar memilih mereka. Namun sayang seribu sayang, ajakan tak berlandaskan dasar. Masyarakat hanya seolah di paksa menyumbangkan suara mereka kepada para CAD (Calon anggota dewan).

Ajang pemilihan umum ini, tak lebih hanya terlihat sebagai arena perburuan suara bagi mereka yang maju, memperebutkan kursi dewan. Hampir seluruh partai peserta pemilu 2019 tidak memberikan alasan kenapa kita, masyarakat, harus memilih mereka. Mereka hanya seperti pemburu yang sedang mengejar mangsanya, tidak lebih hanya untuk kekuasaan dan uang.

Para caleg dan partai mereka, tidak mampu mambawa narasi pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi yang terus stagnan, bahkan sangat berpotensi menurun, atau permasalahan yang lain bangsa ini. Tidak mampu memaparkan nilai substansi, visi dan misi, yang seharusnya mereka usung sebagai janji kampanye tahun 2019. Lalu mengapa kita harus memilih mereka? Yang tidak mampu memberikan kontrak kerja, visi dan misi, di awal sebagai garansi suara yang kita berikan,  dan menjadi nilai dasar perjuangan mereka selama di Dewan.

Dari 16 partai yang akan bertarung secara nasional. Hanya ada 4 partai kontestan yang sudah memberikan dasar nilai perjuangan. Dan menjadi alasan mengapa kita layak memilih mereka.

Pertama, PKS, Partai ini menjanjikan pembebasan pajak kendaraan, dan SIM seumur hidup, jika mereka memenangkan pemilihan anggota legislatif. Janji kampanye tersebut menuai banyak kritik, dari berbagai lawan politik mereka, yang menyebutkan hal tersebut tidak masuk akal.

Tetapi akhir-akhir ini PKS merilis kajian ilmiah tentang pelaksanaan janji politik mereka tersebut, yang membuat janji ity menjadi sangat realistis untuk dilaksanakan. Sepertinya sangat patut bagi kita, masyarakat, untuk membaca kajian ilmiah tersebut, sebagai penguat dasar jika kita ingin memilih PKS.

Selanjutnya, PSI, pendatang baru ini bahkan lebih garang dalam menawarkan janji politik mereka dibandingkan dengan partai-partai yang berusia tua. PSI dengan tegas menawarkan sejumlah sikap penolakan terhadap semua draft, dan undang-undang yany berbau syariah.

Narasi tersebut selalu di gaungkan di hampir semua pidato sang ketua umum, di berbagai tempat, dan kegiatan partai. Bahkan sejumlah APK milik pendatang baru ini, terlihat di beberapa tempat secara terang-terangan mendukung para kaum pesakitan, LGBT.

Namun Sayangnya, sejauh ini PSI, berdasarkan pengamatan saya, belum memberikan atau merilis kajian ilmiah janji tersebut. Hal ini kembali kepada kita semua dalam menilai janji politik partai pendatang baru ini, yang rasanya sangat ahli dalam menyita perhatian pemilih.

Ketiga, Demokrat, partai yang satu ini merupakan partai paling berpengalaman dalam urusan kemenangan. Dua kali mengantarkan ketua umumnya menjadi presiden Republik ini, dan sekali memenangi telak pemilu di tahun 2009.

Partai yang syarat pengalaman ini bahkan tidak tanggung-tanggung, mereka mengusung 14 janji kampanye yang di sebut dengan Demokrat S14P (baca: Demokrat siap). Salah satu diantaranya Stop impor pangan ketika musim panen.

Terakhir adalah PKPI, partai bernomor urut akhir ini bahkan lebih unik dalam memberikan janji kampanye. Mereka akan memperjuangkan RUU e-sport, khusus untuk para penggemar (atlet) game online. Bahkan hal tersebut mulai di wujudkan dengan menggelar Indonesian e-Sports Games (IEG) 2018 di Jakarta Convention Center (JCC) pada januari 2019.

Sejauh ini hanya ke empat partai tersebut yang cukup sering menggaungkan janji politik. Juga sebagai daya tarik agar kita, masyarakat, memilih mereka.  Sedangkan 12 partai politik lain belum memberikan janji politik mereka.  Hanya menggunakan berbagai klem keberpihakan kepada rakyat kecil.

Semua kembali lagi kepada kita untuk dapat memberikan hak suara, kepada yang membawa narasi yang jelas. Baik apakah narasi tersebut sudah di kampanyekan atau belum. Baik berdasarkan pemahaman kita masing-masing atau diskusi-diskusi dengan para peserta pemilu secara langsung, dalam berbagai kunjungan mereka.

Yang pasti kita berharap disisa waktu kampanye, meraka yang belum memberikan janjinya segera angkat bicara. Serta memberikan janji politiknya. Silahkan menentukan pilihan anda, baik berdasarkan kepercayaan bahwa mereka bisa memperjuangkan apa yang kita harapkan.  Tetapi kita harus mengesampingkan sikap terlena oleh janji-janji yang tidak jelas.

Sebagai rakyat yang cerdas, kita harus mampu mengambil pelajaran dari periode politik 2014. Kita harus mampu menilai, manakah partai yang tidak mampu memegang narasi yang mereka bawa. Manakah partai yang selalu membuat kesulitan meraja lela di tengah-tengah kita.

Dan kita juga sebagai masyarakat yang modern, sudah harus mampu membentengi dari kampanye uang dan berbagai barang. Jangan sampai menggadaikan suara demi kenikmatan uang yang tidak seberapa. Jika tidak bisa begitu, maka kita akan kembali merasakan berbagai kesulitan yang kita rasakan 4,5 tahun terakhir.

Bersikap realistis dengan keadaan yang kita rasakan, jauh dari media pencitraan, dan tidak bersikap fanatik yang tidak berdasar, adalah cara kita keluar dari berbagai kesulitan 4,5 tahun terakhir. Silahkan menggunakan pandangan dan penilaian realistis anda berdasarkan keadaan sebenarnya. Bukan berdasarkan berita-berita yang selalu bertolak belakang dengan fakta kesulitan yang dirasakan.

Selamat memilih. Selamat menyelamatkan diri kita dari yang tidak bersubtansi positif. Selamat menuju pesta demokrasi, katanya.



referensi: 
https://www.kompasiana.com/dimas_saputra/5bfe3259ab12ae4a656d56d2/mengupas-14-janji-kampanye-partai-demokrat?page=all

https://www.asumsi.co/post/janji-kampanye-unik-partai-politik-di-pemilu-2019

Share:

Total Pengunjung

followers

Random Posts